Minggu, 14 Desember 2008

Sistem Pencernaan Makanan Hewan Memamah Biak

Struktur khusus sistem pencernaan hewan ruminansia :
1. Gigi seri (Insisivus) memiliki bentuk untuk menjepit makanan berupa tetumbuhan seperli rumput.
2. Geraham belakang (Molare) memiliki bentuk datar dan lobar.
3. Rahang dapat bergerak menyamping untuk menggiling makanan.
4. Struktur lambung memiliki empat ruangan, yaitu: Rumen, Retikulum, Omasum dan Abomasum.

Pola sistem pencernaan pada hewan umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Namun demikian, struktur alat pencernaan kadangkadang berbeda antara hewan yang satu dengan hewan yang lain.

Makanan dari kerongkongan akan masuk rumen yang berfungsi sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan. Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan fermentasi selulosa oleh enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri dan jenis protozoa tertentu. Dari rumen, makanan akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan Jimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Dari mulut makanan akan ditelan kembali untuk diteruskan ke ornasum. Pada omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim.

Selulase yang dihasilkan oleh mikroba (bakteri dan protozoa) akan merombak selulosa menjadi asam lemak. Akan tetapi, bakteri tidak tahan hidup di abomasum karena pH yang sangat rendah, akibatnya bakteri ini akan mati, namun dapat dicernakan untuk menjadi sumber protein bagi hewan pemamah biak. Dengan demikian, hewan ini tidak memerlukan asam amino esensial seperti pada manusia.

Hewan seperti kuda, kelinci, dan marmut tidak mempunyai struktur lambung seperti pada sapi untuk fermentasi seluIosa. Proses fermentasi atau pembusukan yang dilaksanakan oleh bakteri terjadi pada sekum yang banyak mengandung bakteri. Proses fermentasi pada sekum tidak seefektif fermentasi yang terjadi di lambung. Akibatnya kotoran kuda, kelinci, dan marmut lebih kasar karena proses pencernaan selulosa hanya terjadi satu kali, yakni pada sekum. Sedangkan pada sapi proses pencernaan terjadi dua kali, yakni pada lambung dan sekum yang kedua-duanya dilakukan oleh bakteri dan protozoa tertentu.

Pada kelinci dan marmut, kotoran yang telah keluar tubuh seringkali dimakan kembali. Kotoran yang belum tercerna tadi masih mengandung banyak zat makanan, yang akan dicernakan lagi oleh kelinci.

Sekum pada pemakan tumbuh-tumbuhan lebih besar dibandingkan dengan sekum karnivora. Hal itu disebabkan karena makanan herbivora bervolume besar dan proses pencernaannya berat, sedangkan pada karnivora volume makanan kecil dan pencernaan berlangsung dengan cepat.

Usus pada sapi sangat panjang, usus halusnya bisa mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagian besar terdiri dari serat (selulosa).

Enzim selulase yang dihasilkan oleh bakteri ini tidak hanya berfungsi untuk mencerna selulosa menjadi asam lemak, tetapi juga dapat menghasilkan bio gas yang berupa CH4 yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Tidak tertutup kemungkinan bakteri yang ada di sekum akan keluar dari tubuh organisme bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan yang mengandung bahan organik akan diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (gas bio).

Jumat, 12 Desember 2008

Gangguan reproduksi Sapi Perah

Tinggi rendahnya produksi ternak tergantung bagaimana reproduksinya. Secara keseluruhan penurunan daya reproduksi dan kematian merupakan masalah reproduksi yang belum ditangani secara baik. Umur melahirkan pertama kali dapat dipengaruhi oleh pakan, sehingga membuat siklus birahi selanjutnya menjadi tidak normal (lebih panjang / pendek). Beberapa ganguan reproduksi secara umum dipengaruhi oleh lingkungan, hormonal, genetik (anatomi) dan penyakit / infeksi.

Kamis, 11 Desember 2008

Penanganan Kelahiran Pada Sapi perah

Sapi-sapi yang sudah masuk dalam program pengeringan (dry off program) di pen DP (dry pregnant) akan selalu dikontrol. Sapi dengan umur kebuntingan 8 bulan keatas akan dipindahkan ke pen 8 (pen transisi). Begitu juga saat sapi menujukkan tanda-tanda melahirkan, biasanya sangat terlihat pada bagian vulva yang mengendor dan adanya lendir berwarna kekuningan yang menggantung. Sapi dapat langsung digiring menuju pen maternity (pen beranak). Hal ini sangat penting dilakukan untuk menghindari sapi melahirkan di kandang pen dry pregnant sehingga tidak membahayakan pedet yang akan lahir. Sapi yang mengalami kesulitan dalam melahirkan akan mendapat bantuan dari veteriner.
Masalah yang sering terjadi adalah distokia dalam posisi posterior (posisi kepala pedet menghadap kedalam). Jika sapi tersebut mengalami distokia maka dengan segera dokter hewan ataupun veteriner membetulkan posisi pedet dalam kondisi normal. Setelah itu pedet akan dikeluarkan dengan menarik pada bagian kaki yang diikat tali saat sapi merejan hingga semua tubuh pedet keluar. Dalam kondisi normal proses kelahiran pedet terbagi kedalam beberapa tahap atau fase, yaitu :

1. Fase pertama : sapi gelisah, vulva kendor, vulva mengeluarkan lendir, sapi merejan,

amnion terlihat dan amnion pecah.
2. Fase kedua : organ tubuh pedet sebagian terlihat, sapi merejan dan seluruh tubuh pedet

terlihat
3. Fase ketiga : plasenta keluar


Kelahiran harus sudah terjadi dalam waktu 8 jam, jika pedet belum juga keluar maka perlu mendapat bantuan. Pertolongan diberikan dengan memastikan terlebih dahulu kondisi pedet, setelah dirasa benar maka pedet siap dikeluarkan. Kaki depan akan diikat dengan tali yang sudah dicelupkan iodine 7%. Begitu juga tangan yang akan dimasukkan ke dalam vulva dicelupkan dengan iodine. Pada saat sapi merejan kaki akan ditarik. Pedet yang keluar segera dibersihkan dari lendir-lendir yang tersisa terutama pada bagian hidung dan mulut untuk membantu pernafasan. Induknya pun ikut menjilat-jilat tubuh pedet. Empat sampai lima jam setelah melahirkan plasenta harus sudah keluar. Sapi yang sudah melahirkan segera diberikan vitamin AD3E 5 ml lewat suntikkan di bagian leher (intravena), penstrep yang disuntikkan melalui intravena bagian leher sebanyak 20 ml, dan pemberian calcoral gel 400 ml melalui mulut. Penanganan yang diberikan bertujuan agar kondisi sapi tidak melemah setelah melahirkan (drop). Beberapa jam setelah itu sapi akan diperah untuk diambil kolostrumnya menggunakan mesin perah portable.


Pemeriksaan Kebuntingan Pada Sapi Perah

Sapi yang diduga tidak berahi setelah dikawinkan kemungkinan bunting. Pemeriksaan kebuntingan sapi dilakukan satu sampai satu setengah bulan setelah inseminasi terakhir. Pemeriksaan dilakukan dengan cara palpasi rektal yaitu memasukkan tangan pada bagian rektal, jika ovarium terasa asimetris atau adanya pembesaran di salah satu ovari, bisa dikatakan sapi tersebut bunting. Selain itu perabaan dapat dilakukan pada bagian fetal membran (percabangan uteri) yang terasa membesar, pemeriksaan ini dilakukan oleh dokter hewan atau veteriner yang mempunyai keahlian dalam hal reproduksi.

Umur kebuntingan 1,5 bulan sangat muda dan dapat mengakibatkan pecahnya embrio yang masih sangat kecil. Jika sapi tersebut positif bunting maka diberi tanda dengan chalking green pada pangkal ekor. Sejarah perkawinan sapi yang bersangkutan termasuk tanggal melahirkan, tanggal dan jumlah IB yang dilakukan pada seekor sapi harus tercatat dengan baik sehingga dapat dipelajari terlebih dahulu. Catatan perkawinan dan reproduksi yang lengkap sangat bermanfaat untuk menentukan umur kebuntingan secara tepat dan cepat (Toelihere, 1985).

Pemeriksaan kebuntingan dilakukan pada pagi hari saat sapi kembali ke kandang setelah diperah. Ini dapat membantu seorang veteriner untuk memeriksanya, karena sapi dapat di lock up (jepit) pada bagian kepala, sehingga mudah untuk di palpasi. Sebelum melakukan palpasi tangan dibungkus dengan gloves plastic, dan mengambil sebagian feses yang ada sebagai pelicin. Mulanya memasukkan satu jari, dua jari dan seterusnya hingga semua bagian masuk kedalam rektum. Jika kotoran terlalu banyak dapat dikeluarkan sebagian, tidak perlu sampai habis. Saat tangan sudah masuk sapi akan berkontraksi (merejan), tangan didiamkan beberapa saat, kemudian dapat dilanjutkan kembali.



Sistem Perkawinan Sapi Perah

Sistem perkawinan merupakan gambaran dari beberapa metode perkawinan untuk program pengembakbiakan sapi. Masa berahi seekor sapi cukup singkat, untuk itu diperlukan pengamatan secara teliti terhadap tanda-tanda berahi seekor ternak agar program perkawinan dapat berjalan sesuai rencana. Sistem perkawinan ternak dapat dilakukan dengan dua cara:1.

1. Perkawinan

Perkawinan alam dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara kopulasi. Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina dengan menjilati atau membau di sekitar organ reproduksi betina bagian luar setelah itu pejantan melakukan penetrasi.

2. Perkawinan Buatan

Perkawinan buatan sering dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB) atau Artificial Insemination (AI) yaitu dengan memasukkan sperma kedalam saluran reproduksi betina dengan menggunakan peralatan khusus (Blakely dan Bade, 1988).

Perkawinan yang dilakukan oleh Departemen Reproduksi PT Greenfields Indonesia melalui inseminasi buatan (IB) pada saat sapi tersebut menunjukkan gejala-gejala berahi dan mencocokkan data yang ada dalam satu siklus. Pelaksanaan perkawinan harus dilakukan pada saat berahi. Selain itu pengecekan terhadap gangguan reproduksi juga dilakukan, jika sapi tersebut mengalami infeksi pada bagian cervic, atau organ lainnya maka perkawinan akan ditunda.

Perlengkapan yang digunakan untuk perkawinan adalah (1). straw beku pejantan unggul yang diimpor dari Amerika dengan bangsa FH (Frisian Holstein), (2). gun IB yang diimpor dari New Zealand, dan (3). plastic sheat berasal dari Perancis. Straw langsung didatangkan dari Amerika dengan harga sekitar Rp 350.000,00 – Rp 400.000,00- dalam satu container dengan kapasitas kurang lebih 3024 dosis. Semen-semen yang terdapat dalam satu container yang berisi 32-34 liter nitrogen terdiri dari 6-7 pejantan FH (Friesian Holstein) dengan jumlah sperma minimal dua puluh lima juta dalam satu straw kapasitas setengah milliliter (0,5 ml). Straw akan diambil sesuai kebutuhan dan disimpan dalam container kecil dengan kapasitas nitrogen enam liter untuk di bawa ke lapangan. Pergantian straw biasanya dilakukan setiap 6 bulan dengan adanya berbagai pertimbangan. Penambahan nitrogen dilakukan saat batas nitrogen dalam container kurang dari panjang straw, biasanya pada saat volume nitrogen tinggal 30-32 liter.

Straw yang berada di perusahaan tidak hanya diimpor dari Amerika saja, melainkan ada yang diambil dari BIB (Balai Inseminasi Buatan) Singosari. Penggunaan straw yang berasal dari BIB Singosari digunakan untuk sapi-sapi yang bersiklus normal. Jika sapi tersebut bunting dan melahirkan pedet jantan, maka akan diserahkan kembali ke BIB. Tetapi jika pedet yang dilahirkan betina, maka akan menjadi milik perusahaan Greenfields Indonesia.

Pelaksanaan IB dilakukan oleh inseminator yang sudah menguasai teknik inseminasi. Dimulai dari pengambilan straw dari container, pencairan sperma dengan menggunakan air yang bersuhu 370C, memasukkan straw ke dalam gun, perabaan cervic yang benar agar dalam menyuntikkan gun tepat dua hingga tiga sentimeter di depan mulut cervic. Semua prosedur untuk IB dilakukan dengan sangat hati-hati. Kriteria semen yang digunakan PT Greenfields Indonesia berdasarkan produksi susu yang tinggi, sedangkan kriteria semen yang digunakan untuk heifer berdasarkan easy calving 6% (mudah beranak).

Beberapa faktor yang mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan diantaranya :

1. Kondisi betina, meliputi kesehatan dan anatomi organ reproduksi, Body Condition Score (BCS), lingkungan dan pakan, ektoparasit dan endoparasit.

2. Spermatozoa, dilihat dari total sperma yang motil (% motilitas dan konsentrasinya)

3. Ketepatan waktu IB (siklus berahi)

4. Penempatan posisi semen saat IB (tepat di depan cervik ± 3 cm)