Senin, 24 Mei 2010

Inseminasi Buatan

APLIKASI INSEMINASI SEMEN HASIL SEXING PADA SAPI

INDUK PERANAKAN ONGOLE

(The Aplication of Sexed Sperm on Ongole Grades Cow)


ABSTRACT

Using centrifugation techniques with Albumin Column as separating media and egg-yolk-Tris aminomethane as diluter, the sperm which had been separated their chromosomes was insemintated to 40 of PO female that owned by farmer at Wonorejo and Nguling, Pasuruan district. Twenty head were inseminated by straw which collected from lower fraction and another 20 were inseminated by straw from upper fraction. The method of semen disposition at female reproductive organ were divided into (1) 3-4 position (uterine), and (2) 4 + (cornua uterine). The parameters recorded were: sperm quality (volume, pH, progressive mass, individual motile, concentration, live/death percentage and abnormality), biological response of cow (Non- return rate/NRR 40-60 days, service per conception and conception rate, CR), cost analysis of sexed sperm in strat, and farmer response. As of 11 times of semen collection, the volume of fresh semen was 5,56 ± 1,43 ml/eyakulat; pH 6,9 ± 0,20; mass progressive 3+; individual motile 71,36 ± 16,45%; sperm concentration 1651,27 ± 813,43 million/ml; live-persentage 79,42 ± 17,76%; death-sperm 12,27 ± 12,88 % and abnormality 7,47 ± 5,87%. The sexed sperm motility which had had cooled at 5o C as long as 6 days in upper and lower were 45 and 35%, respectively. According to Average test, the NRR of 4+ position showed higher than those of 3-4 position either upper fraction (60 vs. 30%) or lower fraction (70 vs 50%). Meanwhile, the CR resulting from 4 + position (upper fraction) was higher than those of 3-4 positions as of 50 vs. 30%. Likewise in lower fraction, the CR (50%) of 4+ positon was higher than those on 3-4 position (30%). The budget of 50 sexed

straws (based on 100 ml of Tris) was Rp. 390.500 or Rp 7.810/straw. Farmer response on sexed sperm by AI was good enough in which reflected in highly expecting on male.

Key Words: Artificial Insemination, Straw of Sexed Sperm, PO Cattle


ABSTRAK


Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan semen hasil sexing pada sapi peranakan Ongole (PO). Menggunakan teknik sentrifugasi dengan medium pemisah gradien Albumin Column dan pengencer Tris aminomethane kuning telur, spermatozoa yang telah dipisahkan kromosomnya di-inseminasikan pada 40 ekor sapi PO betina milik peternak yang tersebar di Kecamatan Wonorejo dan Nguling Kabupaten Pasuruan. Sebanyak 20 ekor diinseminasi dengan straw yang berasal fraksi bawah dan 20 ekor lainnya dari fraksi atas; metode disposisi semen dalam organ reproduksi betina dibedakan atas (1) posisi 3-4 (uteri), dan (2) posisi 4 + (cornua uteri). Parameter yang diamati meliputi: kualitas spermatozoa (volume, pH, gerak massa progresif, motil individu, konsentrasi, persentase hidup/mati dan abnormalitas), respon biologik sapi akseptor (Non- return rate/NRR 40-60 hari dan conception rate, CR), analisis biaya pembuatan straw hasil sexing, dan respon peternak. Hasil 11 kali koleksi semen didapatkan rataan volume semen segar 5,56 ± 1,43 ml/eyakulat; pH 6,9 ± 0,20; gerak massa 3 +; motil individu 71,36 ± 16,45%; konsentrasi spermatozoa 1651,27 ± 813,43 juta/ml; persentase hidup 79,42 ± 17,76; spermatozoa mati 12,27 ± 12,88% dan abnormal 7,47 ± 5,87%. Motilitas spematozoa straw hasil sexing yang didinginkan pada 5o C sampai 6 hari menunjukkan pada fraksi atas dan bawah masing-masing sebesar 45 dan 35%. Berdasarkan uji beda rata-rata dinyatakan bahwa NRR pada posisi 4+ tampak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi 3-4, baik pada fraksi atas (60 vs. 30%) maupun fraksi bawah (70 vs.50). Sementara itu, CR hasil disposisi semen pada posisi 4 + (fraksi atas) tampak lebih tinggi dibandingkan dengan posisi 3-4, yakni 50 vs. 30%. Demikian halnya pada fraksi bawah, CR (50%) pada posisi 4+ lebih tinggi dibandingkan dengan posisi 3-4 (30%). Hasil analisis perhitungan biaya pembuatan 50 straw hasil sexing (berdasarkan 100 ml pengencer Tris) adalah sebesar + Rp.390.500 atau Rp 7.810/straw. Respon peternak terhadap aplikasi IB hasil sexing cukup baik; ditunjukkan tingginya minat

terhadap pedet berkelamin jantan.

Kata Kunci: Inseminasi Buatan, Straw Hasil Sexing, Sapi PO

Fertilisasi in vitro pada Domba

Korelasi antara Oosit Domba yang Dikoleksi dari Rumah Pemotongan Hewan dengan Tingkat Fertilitasnya

setelah Fertilisasi in vitro


Abstract

The objective of this research was to know the correlation of sheep oocytes collected from slaughter house and the fertility oocytes after in vitro fertilization. Data resulted from this research were quantity of oocytes collected from slaughter house and quantity of fertilized oocytes after in vitro fertilization. Data was analized, and resulted that coefficient correlation ( r ) was 0,4959. Conclusion of this research was positive correlation between oocytes collected and oocytes fertilized.

Key words : oocytes, in vitro fertilization, coefficient correlation


Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi antara oosit domba yang dikoleksi dari RumahPemotongan Hewan dengan tingkat fertilitasnya setelah dilakukan fertilisasi in vitro. Data yang diperoleh adalah jumlah oosit hasil koleksi dan jumlah oosit hasil fertilisasi. Data kemudian dianalisis sehingga diperoleh koefisien korelasi ( r ) sebesar 0,4959. Angka koefisien korelasi ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara jumlah oosit hasil koleksi dari rumah pemotongan hewan dengan jumlah oosit hasil fertilisasi.

Kata kunci : oosit, fertlisasi in vitro, koefisien korelasi

Perkembangan Folikel Dan Viabilitas Oosit Domba Pascatransplantasi Ovarium Domba Intrauterin Pada Kelinci Bunting Semu

( The Development Of Follicles Oocytes Viability From Ewe Ovarium Post-Intrauterine Transplantation To Pseudopregnant Rabbit )


ABSTRACT

The objective of this study was to evaluate the development of ewe follicles and oocytes viability following an intrauterine transplantation of the ovaries into pseudopregnant rabbit. The experiment was conducted in day 1 of pseudopregnant rabbit. Following transplantation for 5, 7, and 9 days, the ovaries were recollected. The development of follicles determined by counting the number of follicles in paraffin embedded ovaries after staining with haematoxylin-eosin (HE). The viability of oocytes was determined by slicing the ovaries. Oocytes were incubated in CO2 incubator with 5% CO2,38°C for 24 hours. After maturation, the oocytes were stained with 2% aceto-orcein to determine the nuclear oocytes status. The result showed that follicles were detected in all stages of their development (primordial, primary, preantral, and antral follicle stages), but their number decreased significantly (P<0.05) 5, 7 or 9 days after transplantation, except for those at primordial stage which at day 5 post-transplantation (634.7±56.88) were not significantly different to the control (683.7±61.55). After maturation, the oocytes that were able to reach the M-II phase at day 5 and day 7 post-transplantation were 35.05% and 35.24% respectively. They were significantly (P<0.05)>

Key word: ovarium, follicles, oocytes, viability, post-intrauterine transplantation


Selasa, 06 Oktober 2009

Fertilisasi

Fertilisasi (pembuahan)

Pembuahan, proses penyatuan gamet pria dan wanita,terjadi di ampulla tuba fallopi. Bagian ini adalah bagian terluas dari saluran telur dan terletak dekat dengan ovarium. Spermatozoa dapat bertahan hidup di dalam saluran reproduksi wanita selama kira-kira 24 jam.

Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu menbuahi oosit. Mereka harus mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom.

Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam saluran reproduksi wanita,yang pada manusia berlangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,suatu selubung glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma, yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom.

Reaksi akrosom terjadi setelah penempelan ke zona pellusida dan diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida, antara lain akrosin dan zat-zat serupa tripsin.

Pada fertilisasi mencakup 3 fase:

  1. penembusan korona radiata
  2. penembusan zona pelusida
  3. fusi oosit dan membrane sel sperma

fase 1 : penembusan korona radiata

Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya 300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk pembuahan, dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang akan membuahi untuk menembus sawar-sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma yang mengalami kapasitasi dengan bebas menembus sel korona.

Fase 2 : penembusan zona pelusida

Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzim-enzim akrosom memungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehingga akan bertemu dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika kepala sperma menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari granul-granul korteks yang melapisi membrane plasma oosit. Pada gilirannya, enzim-enzim ini menyebabkan perubahan sifat zona pelusida (reaksi zona) untuk menghambat penetrasi sperma dan membuat tak aktif tempat tempat reseptor bagi spermatozoa pada permukaan zona yang spesifik spesies. Spermatozoa lain ternyata bisa menempel di zona pelusida tetapi hanya satu yang menembus oosit.

Fase 3 : penyatuan oosit dan membrane sel sperma

Segera setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang menbungkus kepala akrosom telah hilang pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma. Pada manusia, baik kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertingal di permukaan oosit.

Segera setelah spermatozoa memasuki oosit, sel telur menanggapinya dengan 3 cara yang berbeda :

  1. reaksi kortikal dan zona : sebagai akibat terlepasnya butir-butir kortikal oosit.
    1. selaput oosit tidak dapat ditembus lagi oleh spermatozoa lain
    2. zona pelusida mengubah struktur dan komposisinya untuk mencegah penambatan dan penetrasi sperma

dengan cara ini terjadinya polispermi dapat dicegah.

  1. melanjutkan pembelahan meiosis kedua. Oosit menyelesaikan pembelahan meiosis keduanya segera setelah spermatozoa masuk. Salah satu dari sel anaknya hamper tidak mendapatkan sitoplasma dan dikenal sebagai badan kutub kedua, sel anak lainnya adalah oosit definitive. Kromosomnya (22+X) tersusun di dalam sebuah inti vesikuler yang dikenal sebagai pronukleus wanita.
  2. penggiatan metabolic sel telur. Factor penggiat diperkirakan dibawa oleh spermatozoa. Penggiatan setelah penyatuan diperkirakan untuk mengulangi kembali peristiwa permulaan seluler dan molekuler yang berhubungan dengan awal embriogenesis.

Sementara itu, spermatozoa bergerak maju terus hingga dekat sekali dengan pronukleus wanita. Intinya membengkak dan membentuk pronukleus pria sedangkan ekornya terlepas dan berdegenerasi. Secara morfologis, pronukleus wanita dan pria tidak dapat dibedakan dan sesudah itu mereka saling rapat erat dan kehilangan selaput inti mereka. Salama masa pertumbuhan, baik pronukleus wanita maupun pria (keduanya haploid) harus menggandakan DNA-nya. Jika tidak,masing-masing sel dalam zigot tahap 2 sel tersebut akan mempunyai DNA separuh dari jumlah DNA normal. Segera sesudah sintesis DNA, kromosom tersusun dalam gelendong untuk mempersiapkan pembelahan mitosis yang normal. 23 kromosom ibu dan 23 kromosom ayah membelah memanjang pada sentromer, dan kromatid-kromatid yang berpasangan tersebut saling bergerak kea rah kutub yang berlawanan, sehingga menyiapkan sel zigot yang masing-masing mempunyai jumlah kromosom dan DNA yang normal. Sementara kromatid-kromatid berpasangan bergerak kearah kutub yang berlawanan, muncullah satu alur yang dalam pada permukaan sel, berangsur-angsur membagi sitoplasma menjadi 2 bagian.

Hasil utama pembuahan

  1. pengembalian menjadi jumlah kromosom diploid lagi, separuh dari ayah dan separuhnya dari ibu. Olah karena itu, zigot mengandung kombinasi kromosom baru yang berbeda dari kedua orang tuanya.
  2. penentuan jenis kelamin individu baru. Spermatozoa pembawa X akan menghasilkan satu mudigah wanita (XX), dan spermatozoa pembawa Y menghasilkan satu mudigah pria (XY). Oleh karena itu, jenis kelamin kromosom mudigah tersebut ditentukan pada saat pembuahan.
  3. dimulainya pembelahan. Tanpa pembuahan,oosit biasanya akan berdegenerasi 24 jam setelah ovulasi.

Kamis, 19 Maret 2009

Pemeliharaan Sapi Perah

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif

Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.

2. Perawatan Ternak

Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar).
Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.

3. Pemberian Pakan
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:

a) sistem penggembalaan (pasture fattening)
b) kereman (dry lot fattening)
c) kombinasi cara pertama dan kedua.

Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB.Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari.Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.

4. Pemeliharaan Kandang

Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.